Sikap Syar’iy Apabila Imam Tidak Melaksanakan Shalat Jumat Karena Sebuah Alasan.



📜قال تعالى:{ إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَىٰ أَمْرٍ جَامِعٍ لَّمْ يَذْهَبُوا حَتَّىٰ يَسْتَأْذِنُوهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَن لِّمَن شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ } [النور:62].

(Yang disebut) orang mukmin hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad), dan apabila mereka berada bersama-sama dengan dia (Muhammad) dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

🔺وفيها من العلم :

Kandungan ilmu dalam ayat:

أخرَج عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، وابْنُ أبِي حاتِمٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ في الآيَةِ قالَ: هي في الجِهادِ والجُمُعَةِ والعِيدَيْنِ.
وأخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ، وابْنُ المُنْذِرِ، وابْنُ أبِي حاتِمٍ، عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ في قَوْلِهِ: ﴿عَلى أمْرٍ جامِعٍ﴾ قالَ: مِن طاعَةِ اللَّهِ، عامٌّ ،

Abdu bin Humaid meriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim, dari Said bin Jubair dalam ayat ini ia berkata: ayat ini dalam hal jihad, shalat jumat, shalat ied. Ibnu Jarir, ibnu mudzir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas pada firman Allah “atas perkara yang Bersama” ibnu Abbas mengatakan: dalam ketaatan kepada Allah yang bersifat umum.

🔺وعن عطاء : صلى بنا ابن الزبير في يوم عيد في يوم جمعة أول النهار ، ثم رحنا إلى الجمعة فلم يخرج إلينا فصلينا وحدانا ” رواه ابو داود بإسناد صحيح.

Dari ‘Atha ia berkata: “Ibnu Zubair (pemimpin saat itu) mengimami kami pada hari ied di hari jum’at di awal siang, kemudian kami (pergi ke masjid) untuk shalat jumat, Ibnu Zubeir tidak keluar mendatangi kami (di masjid), sehingga kami shalat sendiri sendiri.” HR. Abu Daud dengan sanad shahih.

🔺فابن الزبير رضي الله عنهما تأول أنّه تجزئ صلاة العيد عن الجمعة ، ولايلزم الإمام إقامتها فصلى الناس الظهر فرادى تعظيماً لشأن الإمام.

Ibnu Zubair memahami bahwa shalat ied sudah bisa mengganti shalat jumat. Maka imam (pemerintah) tidak harus melaksanakannya, maka jamaah mengerjakan shalat zohor sendiri sendiri karena menghargai kedudukan imam (pemimpin)

🔺والثابت عن الخلفاء الراشدين عثمان وعلي رضي الله عنهما إقامة الجمعة ولو اجتمعت مع العيد ، فقد روى البخاري عن أبي عُبَيْدٍ : ثُمَّ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ ، فَجَاءَ فَصَلَّى، ثُمَّ انْصَرَفَ، فَخَطَبَ وَقَالَ : إِنَّهُ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ، فَمَنْ أَحَبَّ مِنْ أَهْلِ الْعَالِيَةِ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ، فَلْيَنْتَظِرْهَا، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ، فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ “.
Yang dijalankan oleh khalifah rasyidin utsman dan Ali semoga Allah meridhoi mereka berdua adalah melaksanakan shalat jumat walaupun berketepatan dengan hari lebaran. Dan sungguh imam Bukhari telah meriwayatkan dari Abi Ubaid berkata: aku menghadiri ied bersama Utsman bin Affan, lantas beliau datang lalu mengerjakan shalat, setelah selesai shalat beliau menyampaikan khotbah, dan berkata: sesungguhnya pada hari kalian ini telah berkumpul dua lebaran, maka siapa yang ingin dari warga Aliah (pinggiran kota) untuk menunggu jumat selahkan ditunggu, siapa yang ingin kembali, maka sungguh aku telah mengizinkannya.

🔺وقد ترك الناس الجمعة والجماعة لما وقع الوباء في الشام،

Sungguh telah terjadi orang orang meninggalkan shalat jumat dan shalat berjamaah disebabkan wabah yang menimpa negeri Syam.

قال عمرو بن العاص رضي الله عنه – للناس عن طاعون عَمَواس: أيها الناس إن هذا الوجع إذا وقع فإنما يشتعل اشتعال النار، فتحصنوا منه في الجبال. فتفرقوا ودفعه الله عنهم. فلما بلغ عمر بن الخطاب رأي عمرو بن العاص ما كره رأيه ولا عاتبه “( البداية والنهاية لابن كثير ٤٣/١٠).
Amr bin Ash semoga Allah meridhoi beliau – berkata kepada manusia menyikapi thoun amawas, wahai manusia sesungguhnya wabah ini apabila terjadi maka sesungguhnya dia akan menjalar seperti api menjalar, maka berlindunglah dari wabah ini di gunung gunung. Maka mereka pun berpencar dan Allah menghilang wabah itu dari mereka. Ketika ide Amr bin ash sampai kepada umar bin Khattab, beliau tidak membencinya dan tidak mencelanya. (bidayah wa nihayah ibnu Katsir : 10/43)

🔺ومن هذا الباب ما رواه مسلم عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، قَالَ : قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ : ” كَيْفَ أَنْتَ إِذَا كَانَتْ عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا، أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا “، قَالَ : قُلْتُ : فَمَا تَأْمُرُنِي ؟ قَالَ : ” صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا، فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ، فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌ “.
Termasuk dari bahasan ini, apa yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari Abi Dzar, ia berkata: “Rasulullah bersabda kepadaku :” apa yang engkau lakukan jika ada pemimpin pemimpin yang memimpin kalian mengakhirkan shalat dari waktunya, atau mematikan sholat dari waktunya. Abu Dzar berkata: Aku berkata: apa yang engkau perintahkan kepadaku ? beliau bersabda: kerjakanlah shalat pada waktunya, jika kamu mendapatkan shalat bersama mereka maka kerjakanlah (shalat lagi), sesungguhnya shalat itu untukmu sebagai tambahan.”

↩ وفيه الحث على موافقة الأمراء في غير معصية؛ لئلا تتفرق الكلمة وتقع الفتنة، ولهذا قال في الرواية الأخرى: ” إن خليلي أوصاني أن أسمع وأطيع وإن كان عبدا مجدع الأطراف “.

Dalam hadis ini dorongan untuk mengikuti pemimpin dalam perkara yang tidak maksiat. Agar tidak terpecah persatuan, dan tidak terjadi fitnah (kekacauan). Oleh karen itu dalam riwayat lain Abu Dzar berkata: Sesungguhnya kekasihku telah mewasiatkan agar aku mendengar dan mentaati, walaupun pemimpin itu hamba sahaya yang cacat puntung tangannya.

↩ وفيه أنّه صلى الله عليه وسلم لم يأذن له في إقامتها دونهم،

Dalam hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengizinkan Abu Dzar untuk menegakkan shalat (berjamaah di masjid) tanpa (izin) pemerintah.

↩ وفيه التنبيه إلى أنّه لا يصلي في المسجد إذا منعوه ،

Dalam hadis di atas, peringatan bahwa tidak boleh shalat di masjid jika pemerintah larangnya.

↩ وفيه مشروعيّة إعادة الصلاة معهم ولو أخروها عن وقتها دفعاً للخلاف وحرصاً على الإجتماع ،

Dalam hadis di atas, disyariatkan mengulangi shalat bersama mereka (pemerintah) walaupun mereka mengakhirkannya dari waktunya, demi menghindari perbedaan dan upaya menjaga persatuan.

🔺فكيف إذا علمنا يقيناً أنّ الإمام لا يقصد منع الناس من الصلاة وإنما يقصد دفع الضرر عنهم كما هو الحال في وباء كورونا،
فقد اتفق العقلاء والأطباء أنّه داء معدي وأعظم ما يكون ضرره في إجتماعات الناس ،

Maka bagaimana kalau jika kita telah mengetahui secara yakin bahwa imam (pemerintah) tidak bermaksud melarang kaum muslimin mengerjakan shalat, akan tetapi bermaksud untuk menghilangkan bahaya dari mereka, sebagaimana kondisi di wabah corona covid 19. Orang orang pintar dan para dokter telah bersepakat bahwasanya covid 19 adalah penyakit yang menular, bahayanya sangat besar ketika perkumpulan masa.

📜 وقد روى الشيخان
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَعَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ، فَدَنَا مِنَ الْمَدِينَةِ، فَقَالَ : ” إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا، وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ “. قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ ؟ قَالَ : ” وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ “.

“Imam bukhari dan muslim telah meriwayatkan dari Anas bin Malik, semoga Allah meridhainya, bahwa rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali dari perang Tabuk, ketika mendekat dari madinah, beliau bersabda: “Sesunggunya di madinah itu ada sekelompok orang , tidaklah kalian menempuh sebuah perjalanan, atau melewati sebuah lembah kecuali mereka berada bersama kalian, para sahabat bertanya: wahai rasulullah, mereka di Madinah? Nabi bersabda: mereka di Madinah, mereka ditahan oleh udzur.”

اللهم ياعليم ياقدير ادفع عنا الوباء إنّك على كل شيء قدير .

“Ya Allah, wahai yang Maha mengetahui wahai yang maha kuasa, hilangkanlah dari kami wabah ini, sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu.”

والله أعلم.
Allah yang lebih mengetahui.
٢٥-٧-١٤٤١ هـ
25-7-1441 H
قناة الشيخ على تيليغرام

https://t.me/alobilan

Padang, 28 maret 2020
Penerjemah :
Ust Muhammad Elvi Syam
(Pengasuh SurauTV Padang)